Juni 27, 2025

Kebisingan

Sore di hari liburku diisi dengan scrolling media sosial. Tanpa sengaja, aku menemukan sebuah kalimat yang menampar pelan, mengingatkanku pada penyebab kebisingan di kepala belakangan ini.

Katanya,
"Stop consuming so much information."

Kalimat sederhana, tapi rasanya tepat sasaran.
Mungkin selama ini aku kurang menyadari, terlalu banyak mengonsumsi informasi justru membuat kepala penuh sesak. Bukannya terinspirasi, malah jadi overthinking dan galau sendiri.

Berbagai pertimbangan berseliweran di kepala. Cerita dari ruang yang satu, datang lagi cerita dari sisi yang lain. Ditambah obrolan santai dengan rekan kerja saat senggang, semuanya bercampur jadi satu. Tanpa sadar, semua cerita itu ikut kupikirkan. Apalagi kalau berkaitan dengan hal pribadi atau urusan pekerjaan sehari-hari. Ujung-ujungnya? Overthinking lagi.

Belum lagi kebiasaan buka satu media sosial ke media sosial lainnya. Baca satu berita, lanjut ke yang lain. Ada yang menarik dan membuatku ingin tahu lebih dalam, tapi banyak juga yang sebenarnya minim manfaat.

Mungkin sudah saatnya lebih bijak dalam membaca, pun bercerita.
Kalau dirasa kurang berguna, ya... skip saja.
Kalau memang bermanfaat, pasti terasa tidak sia-sia.

Agar isi kepala tak terlalu bising.

Share:

"Yah"

 "Pulangnya agak sorean ya Yah, mau dibawain apa?"


"Tadinya mau beli Mie Aceh, antriannya panjaang, jadi kebelinya Roti Bakar aja ya..."

"Yah, kakak pigi kawanin Tia ya, kadang pulangnya agak malam. Ada nitip yah?"

"Alhamdulillah kegiatannya lancar Yah, happy, tempatnya nyaman, makanannya juga enak, jadi ngga terlalu capek walaupun kadang sampe malam. Teman-temannya juga baik"

"Tadi belanja sama teman-teman sekolah, untuk keperluan acara besok. Padaat... tapi yang dicari lengkap semua Yah. Tadi sekalian mampir ke toko kue, Kakak bawain Bolu Pisang juga"

"Yah, doain kegiatan hari ini lancar dan sukses ya...soalnya yang lain pada pinter-pinter semua, banyak nervous jadinya"

Rasanya masih banyak kata "Yah" yang ingin kuselipkan diujung kalimat ceritaku setiap harinya.
Ntah senang yang membuatku sampai tertawa ketika bercerita, atau sedih karena kadang pekerjaan yang banyak drama, juga baik-buruk ku dalam menghadapi dan menerima setiap peristiwa, pun setiap pencapaian kecil yang kupunya tapi tetap ia anggap istimewa.

"Ayah" yang kali ini namanya hanya bisa kuselipkan dalam setiap doa. Kuniatkan kebaikan untuknya disetiap kegiatan baik yang kupunya. Bahagia di tempat terbaikNya.

Sebenarnya masih baanyak sekali cerita, kali ini kutulis di sini dulu saja.
Waah, benar ya! Rindu memang amat menyiksa.
Share:

Mari mencoba bercerita

Perilakunya terlihat tenang, apa yang diucapkan terlihat telah dipikir panjang, gerak tubuhnya pun bertujuan.

Siapa sangka di dalam sana bising di pikiran, semua penuh pertimbangan, ntah waspada atau memang ada yang menakutkan.

Untuk orang yang terbiasa butuh waktu lama mencerna sekitarnya, menimbang apa yang akan dilakukan dan konsekuensinya, sangat tidak mudah berbagi cerita.
Ntah tentang apa. Kepada siapa. Untuk apa. Dan akan jadi apa.
Sibuk dengan pertimbangan 'untuk apa aku bagikan?', muncul penyesalan setelah membagikan, atau mungkin karena tidak berisi teladan.

Padahal memang tidak memberi kepercayaan.
Terlalu terbiasa dengan sendirian.

Semoga kali ini bisa lebih berani, karena setiap diri punya ceritanya sendiri.
Tidak harus istimewa. Karna setiap cerita ada nilainya.

[Notes from 1 Januari 2023]
Share: